Friday, March 8, 2019

Rendah Hati vs Sombong


Rendah Hati Dan Kesombongan

Ini merupakan teori yang di bangun berdasarkan pengalaman pribadi, di buat sebagai suatu pemahaman praktis mengenai, pengenalan terhadap diri sendiri dan orang lain, dalam hal rendah hati vs sombong. Semoga ini meonolong kita dan menjadi berkat bagi banyak orang. 

 Kesombongan/ tinggi hati, kecongkakan, iri hati, dan sebagainya, adalah karakter yang timbul sebagai penyakit dalam hati seseorang. Hebatnya kasih yang sejati, Kasih sejati akan menyayat habis segala penyakit tersebut dan kasih sejati itu sendiri juga yang akan membalut luka sayatan itu hingga pulih. So, hanya kasih sejati yang dapat mengubahkan hidup seseorang. Kedengarannya lembut tetapi memiliki kekuatan yang tak tertandingi, yaitu mengubahkan hati orang. Pekerjaan yang seringan apapun, jika dilakukan dengan dengan kebencian akan terasa sangat berat. Tetapi jika sebuah pekerjaan dilakukan dengan kasih maka yang berat akan terasa ringan.

Learn To Be Humble (Day 1)
Menjadi rendah hati bukanlah suatu hal yang mudah, karena di sinilah kita akan berperang melawan diri sendiri. Sifat yang sangat bertentangan dengan rendah hati adalah kesombongan, yang pastinya selalu berbawaan dengan sifat suka mementingkan diri sendiri. For the first, hari ini kita akan belajar untuk MEMPOSISIKAN ORANG LAIN LEBIH DARI KITA. Hal ini penting, karena kesombongan tidak dapat dipisahkan dari sifat egois, dimana seseorang akan merasa dan menempatkan diri lebih baik dari orang lain. Dengan memposisikan orang lain lebih dari kita, berarti kita telah mematahkn sifat ego atau sombong dalam diri kita. Jangan mencari hormat dari manusia tetapi dari Allah, sikap ini akan membuat kita rendah di pandangan manusia tetapi Allah menyukainya. “..., jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya.” (Markus 9:35). 

Learn to be Humble (Day 2). 
Jangan banyak bicara tetapi banyak mendengarkan orang lain. Salah satu hal yang menggambarkan pribadi seseorang, dapat dilihat ketika ia sedang berhadapan atau berbicara dengan orang lain. Seorang yang sombong dan Egois, akan terlihat ketika ia berhadapan dengan orang lain, cirinya adalah: (1) Jarang atau bahkan tidak memberikan kesempatan orang lain untuk berbicara, (2). Tidak ingin disaingi dalam perkataan. Untuk menjadi seorang yang rendah hati, kita harus bisa mengekang diri mulai dari membatasi diri untuk berkata banyak di depan orang, dan memberikan orang lain untuk berbicara kepada kita hingga selesai pembicaraannya. Karena orang yang egois & sombong selalu mengambil kesempatan bicara ketika orang lain sedang berbicara. Sebab itu, dengarkanlah hingga tuntas. So, bicaralah ketika diperilahkan untuk berbicara, dan ketika di tanya, jawablah sesuai dengan kebutuhan pertanyaan tersebut. “..., hendaklah Cepat untuk mendengar, lambat untuk berkata, ...” (Yakobus 1:19).

Learn to be humble (day 3). 
Berhentilah membicarakan keunggulan atau kelebihan kita tetapi dengarkanlah dan ketahuilah kelebihan orang lain serta berilah apresiasi dengan tulus. Hal ini sangat sering terjadi ketika seseorang menyombongkan diri, karena kebanyakan orang sombong itu suka menunjukkan kelebihan atau keunggulannya, dan tidak ingin ada orang yang lebih hebat dari dia. Sangat baik jika seseorang memiliki kelebihan, tetapi kita harus berhati-hati dengan kelebihan kita, karena hal itu akan sangat mudah untuk menjatuhkan seseorang dalam kesombongan. Karena, seorang yang sombong akan sangat suka untuk mengumbar-umbar kelebihannya, ingin menutup kelebihan orang lain dengan menggunakan kelebihannya, agar hanya dia yang terlihat unggul dari yang lainnya. Kesenangan orang yang sombong terletak pada pujian yang hampa. Sebab itu, jika kita tidak membicarakan kehebatan atau keunggulan kita dan memberikan pujian pada orang lain, ini artinya kita sedang memposisikan diri kita berada dibawah orang lain, karena kita telah mengangkat mereka dengan membicarakan keunggulan mereka. “2:5Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, 2:6yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, 2:7melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.” (Filipi 2:5-7). 

Learn to be Humble (Day 4). 
Berkaitan dengan masalah Pribadi. Memilih untuk mengalah adalah lebih baik, dari pada mengumpulakan amarah, pemikiran yang akan digunakan sebagai senjata dalam suatu perdebatan. Salah satu ciri seorang yang sombong/egois adalah ingin selalu menang, mengalah belum tentu kalah, salah satu ciri orang yang kuat (hebat) adalah bukan hanya dilihat dari segi fisik. Orang terhebat adalah orang yang mampu menaklukkan diri sendiri, memilih untuk mengalah, akan membuat seseorang menjadi hebat karena mampu untuk menaklukkan luapan emosi. Memilih untuk mengalah adalah lebih baik. Ini berarti kita harus belajar untuk mengutamakan orang lain bukan untuk mementingkan kepentingan pribadi. Seorang yang sombong/egois, pemikirannya akan selalu berfokus pada kepentingan pribadi, mengabaikan, memanfaatkan bahkan menjatuhkan orang lain untuk kepentingan sendiri. Mengalah adalah termasuk suatu tindakan yang tergolong sulit bahkan kadang menyakitkan. Namun, dengan melakukan hal ini, kita telah mengikuti teladan Kristus. (Filipi 2:1-7). 

Learn to be Humble (Day 5). 
Jangan ragu untuk minta maaf, dan maafkanlah orang lain yang bersalah. Salah satu ciri dari orang yang sombong/egois adalah tidak mau disalahkan dan sukar untuk meminta maaf. Keberanian untuk meminta maaf adalah suatu tindakan yang luar biasa, karena dengan demikian kita telah melawan sikap egoisme dalam diri kita, berani mengambil resiko (siap menerima segala konsekuensi), jujur (mengakui kesalahan), rela dipandang rendah orang lain. Memafkan kesalah orang lain juga adalah tindakan keren kawan, tidak peduli seberapa besar kesalahan orang lain, mulailah untuk suka memaafkan, karena Allah telah mengampuni Kita. (Matius 6:12, 14-15). Orang yang tidak mau memafkan, itu sama dengan orang yang sombong. Hal ini bisa juga menjadi tolak ukur bagaimana hubungan kita dengan Tuhan. “jika hubungan seseorang dengan sesama tidak beres, maka, demikian juga ia dengan Tuhan, dan Tuhan tidak berkenan kepada orang yang datang kepada-Nya dengan kesombongan. (Lukas 18:10-14 bd, Matius 5:23-24). Orang yang tidak mau inta maaf adalah sama denga orang sombong. 

Learn to be humble (day 6). Jangan memaksa orang lain untuk mengerti kita, tetapi paksalan diri sendiri untuk mengerti orang lain terlebih dahulu. Dari sekian banyak pertentangan, perselisihan, bahkan, pertengkaran, pada umumnya, masalahnya disebabkan karena tidak mau mengerti orang lain. Orang yang sombong/egois, memiliki sifat yang selalu ingin dimengerti tanpa mengerti orang lain dan cenderung memiliki karakter yang susah untuk mengontrol atau mengerndalikan emosi, serta cepat untuk berpikir negatif. Karena itu, orang yang demikian pasti sangat mudah untuk tersinggung. Agar hidup itu damai, mulailah untuk memahami orang lain terlebih dahulu, sehingga dengan demikian, kita bisa dengan mudah untuk menerima keadaan setiap orang. (Matius 5:25).

Learn to be humble (day 7)
Menerima kelebihan orang lain. Terimalah juga kelemahan atau kekurangan orang lain serta berikan motivasi. Sifat egoisme adalah mengharapkan yang baik dari orang lain, tetapi tidak mau melakukan yang baik bagi orang lain. Dan jika seorang yang sombong melakukan sesuatu, ujung-ujungny adalah untuk mencari pujian untuk diri sendiri. Orang yang demikian, tidak akan peduli dengan kekurangan orang lain yang dia inginkan adalah kesempurnaan tanpa memperhatikan keadaan orang lain. Sebab itu, dia hanya akan suka untuk bergaul dengan orang-orang yang memiliki kelebihan atua keahlian khusus, atau bahkan terkenal, dan mengabaikan atau menjauhkan diri dari orang-orang yang tidak memiliki kelebihan seperti yang diharapkannya. Karena itu, pepatah “kacang lupa kulit”, itu hanya berlaku bagi orang-orang yang sombong. “Kasihiliah sesamamu manusia seperti engkau mengasihi dirimu sendiri” (Matius 22:39, bd. Yohanes 13:34; 15:12) Jadi, terimalah segala keberadaan orang lain dengan penuh kasih & lengkapilan kekurangan orang lain.  

Menjadi Copywriter Profesional: Panduan untuk Pemula

     Copywriter      Bagi beberapa orang, hal ini merupakan suatu hal yang asing, namun buat sebagian orang lain,  Copywriter merupakan suat...